Biznisku.id – Program Studi Magister Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional (UNAS) menggelar Seminar dan Talkshow Nasional bertajuk “Peran Ilmu Sosial dan Humaniora Menuju Indonesia Emas 2045” di Kampus UNAS, Jakarta Selatan, Selasa (14/7).
Kegiatan yang menjadi bagian dari Workshop Bina Talenta ini merupakan kolaborasi antara Magister Sosiologi FISIP UNAS, Komisi X DPR RI, Diktisaintek Berdampak, dan Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI).
Diskusi dipandu Sekretaris Program Studi Magister Sosiologi UNAS, Dr. Jeanne Noveline Tedja, M.Kesos.
Dalam sambutannya, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Hj. Himmatul Aliyah, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa Indonesia telah memiliki landasan hukum yang kuat untuk memperkuat ilmu sosial dan humaniora, mulai dari Undang-Undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi hingga Undang-Undang Pendidikan Tinggi.
Menurutnya, target Indonesia Emas 2045 tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas karakter, moral, integritas, dan kolaborasi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN, Dr. Muhammad Najib Azca, S.Sos., M.A., menilai pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 tidak boleh hanya berorientasi pada indikator ekonomi.
Ia mendorong agar ilmu sosial dan humaniora mendapat posisi yang setara dengan bidang STEM, baik dalam pendanaan riset maupun penyusunan kebijakan nasional.
Wakil Rektor I Universitas Nasional, Prof. Dr. Erna Ermawati Chotim, M.Si., menyoroti masih timpangnya dukungan terhadap bidang sosial-humaniora dalam kebijakan pendidikan.
Ia mengusulkan penyeimbangan pendanaan riset, penguatan kurikulum STEM yang terintegrasi dengan humaniora, serta penerapan Analisis Dampak Sosial-Budaya pada setiap Proyek Strategis Nasional.
Ketua Umum APSSI periode 2026–2030, Dr. Tyas Retno Wulan, S.Sos., M.Si., memperkenalkan konsep SHAPE (Social Sciences, Humanities, Arts for People and Economy) sebagai mitra strategis STEM.
Ia mengingatkan bahwa berkurangnya dukungan terhadap program studi sosial-humaniora berpotensi menimbulkan kekurangan tenaga ahli, khususnya sosiolog bergelar doktor, dalam satu hingga dua dekade mendatang.
Para pembicara sepakat bahwa ilmu sosial dan humaniora bukan sekadar pelengkap bagi perkembangan sains dan teknologi, melainkan fondasi penting agar kemajuan pembangunan mampu menghadirkan keadilan sosial, memperkuat karakter bangsa, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Seminar ini juga menjadi contoh sinergi antara perguruan tinggi, legislatif, kementerian, lembaga riset, dan organisasi profesi dalam memperkuat kontribusi ilmu sosial dan humaniora menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.









