Sahroni mengatakan sebelumnya pun pada pukul 03.00 WIB dini hari, tetangga korban mendengar suara gemuruh di kediaman almarhum Basri Abdul Latif. Lalu keesokannya tetangga tersebut memberitahu kepada keluarga korban lainnya dan sama-sama mendatangi rumah korban.
Tak disangka, Basri beserta istri dan dua anaknya sudah tertimbun tembok rumah yang ambrol akibat tidak kuat atau kroposnya dinding tembok karena air yang jatuh dari tebinga yang bersebelahan dengan kamar dimana mereka tidur.
“Jadi korban meninggal karena tertimpa tembok rumah mereka,” ucap Sahroni.
Masih di tempat yang sama, Bupati Bogor Ade Yasin mengaku pihaknya akan menambah Desa Tangguh Bencana (Destana) di wilayahnya. Destana, kata dia, akan membentuk petugas desa dan masyarakat lebih tanggap dalam mitigasi bencana.
“Sekarang Destana ada 24, dan ini belum apa-apa. Harus kita tingkatkan lagi. Setiap tahun harus ada peningkatan,” katanya di Kampung Cibolang Desa Banjarwangi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor.
Ia menganggap jumlah 24 Destana masih sedikit dibandingkan dengan jumlah total desa se-Kabupaten Bogor yang mencapai 410 desa dan 16 kelurahan. “Dengan Destana, orang-orangnya dilatih untuk tindakan mitigasi. Ini sangat dibutuhkan dan secara intens dijalankan,” ungkapnya.
Ade juga mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dalam kondisi apa pun karena curah hujan di Kabupaten Bogor masih di atas rata-rata, sehingga potensi terjadinya bencana semakin besar.
“Menahan hujan, itu tidak mungkin. Saya sudah instruksikan kades dan camat untuk tetap waspada. Kalau hujan terus menerus, jangan pergi atau meninggalkan tempat. Kita harus siaga, bila ada kejadian yang tidak diinginkan, bisa segera diatasi,” tandasnya. (*)









