Biznisku.id – Kabar duka kembali menyelimuti dunia kedokteran Indonesia atas wafatnya dr. M. Zulfikar Drakel, M.Res., peserta Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) di RSUD Sukadana, Lampung Timur, pada Selasa, 21 Juli 2026.
Tragedi yang menambah deretan dokter Internship yang gugur saat bertugas ini menuai sorotan tajam dari berbagai pihak, termasuk tokoh politik perempuan asal Depok, Novi Anggriani.
Novi menilai, rentetan kematian tenaga kesehatan (nakes) muda ini bukanlah sekadar musibah biasa, melainkan cermin nyata dari bobroknya sistem kerja dan budaya di dunia kedokteran Indonesia yang mendesak untuk dibenahi.
Novi menyoroti beban kerja fisik dan mental para dokter peserta internship.
“Bener-bener kurang tidur. Jadi harus perhatikan waktu istirahatnya agar cukup, juga asupan nutrisi dan vitaminnya. Ya harus perhatikan kesehatan sendiri jangan sampai memaksakan diri padahal tubuhnya butuh istirahat,” ujar Novi Anggriani, Kamis, 23 Juli 2026.
Menurutnya, kondisi kelelahan ekstrem (burnout), kurangnya waktu istirahat, dan tekanan kerja tinggi ini dianggap menjadi pemicu utama menurunnya kondisi fisik para dokter Internship yang sedang mengabdi di daerah.
Selain masalah beban kerja, Novi juga mengkritik tajam ketimpangan antara pengorbanan finansial serta waktu yang dikeluarkan selama menempuh pendidikan kedokteran dengan penghargaan yang diterima saat menjalani masa internship.
Kuliah kedokteran memakan waktu hingga 7 tahun (termasuk masa koas dan internship) dengan biaya yang sangat tinggi—bahkan bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar di perguruan tinggi swasta.
Namun, bantuan biaya hidup (gaji) dokter internship yang berada di kisaran Rp3 juta per bulan dinilai sangat jauh dari kata layak.
“Biaya, tenaga, dan mental sudah dikeluarkan begitu besar, tapi gajinya tidak setara. Kalau cuma dokter umum, pendapatannya kecil, padahal risiko dan pengorbanannya sangat besar. Sistem seperti ini sangat memprihatinkan,” tegasnya.
Novi yang juga aktivis perempuan dan anak ini mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan pihak terkait tidak hanya menyampaikan belasungkawa, tetapi mengambil tindakan konkrit untuk merombak sistem yang ada.
“Ini hal yang harus dipikirkan secara serius oleh pemerintah. Sistem kerja yang melelahkan, insentif yang minim harus segera dievaluasi. Jangan sampai ada lagi talenta-talenta terbaik bangsa yang gugur karena sistem yang bobrok,” tutup Novi.









